Hendropriyono: WNI Keturunan Arab Jangan Jadi Provokator

Hendropriyono: WNI Keturunan Arab Jangan Jadi Provokator

Yustinus Paat / YUD

Senin, 6 Mei 2019 | 19:37 WIB




Hendropriyono saat memberikan Filsafat Intelijen di Sekolah Tinggi Hukum Militer, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (12/4/2019). (istimewa)


Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono memperingatkan Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Arab yang menjadi elite politik tidak menjadi provokator. Terutama selama penyelenggaran pemilu 2019. Sebagai elite yang diterima masyarakat Indonesia, kata Hendropriyono, seharusnya mereka memberikan contoh yang baik.

"Saya ingin memperingatkan bangsa Indonesia, WNI keturunan Arab supaya sebagai elite yang dihormati oleh masyarakat kita, cobalah mengendalikan diri jangan menjadi provokator," ujar Hendropriyono di kantor Lemhanas, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019).

Menurut Hendropriyono, banyak WNI Arab yang dihormati oleh rakyat Indonesia. Karena itu, pernyataan mereka tentu bisa berpengaruh untuk orang lain atau masyarakat Indonesia.

"Saya ingatkan, karena di dusun, di desa, masyarakat kita kalau ada orang Arab pidato, bicara semua cium tangan. Kalau China tidak ada yang cium tangan di kampung-kampung. Artinya masyarakat keturunan Arab WNI tahu posisinya yang dimuliakan rakyat, dengan dimuliakannya tahulah dalam posisi yang diharapkan mengayomi. Jangan memprovokasi untuk melakukan politik jalanan, apa pun namanya lah. Tetapi itu di jalan, tidak disiplin," terang dia.

Hendropriyono memang enggan menuduhkan kepada perseorangan, tetapi dia memperingatkan bagi semua WNI keturunan Arab yang dihormati oleh banyak rakyat. Dia juga membantah jika pernyataannya tersebut bernuansa SARA.

"Saya tidak memiliki kepentingan apapun, apalagi memojokan kelompok tertentu. Bukan cuma Habib Rizieq Syihab, tapi elite lainnya. Agar bisa menahan diri dan tidak memprovokasi," tandas dia.

Mantan Ketua Umum PKPI itu memandang, masyarakat sipil memiliki peran vital di dalam negara demokrasi. Bahkan kudeta bisa berawal dari rakyat sipil. Maka untuk menghindarinya, rakyat harus diberi edukasi yang baik bukan diprovokasi.

"Kita lihat dulu Jenderal Soedirman di gotong-gotong sebagai orang sakit ke sana kemari, tidak ada arti dalam strategi militer, tetapi secara psikologis artinya sangat besar, memenangkan perang," pungkas Hendropriyono.


Sumber: BeritaSatu.com

https://www.beritasatu.com/politik/552687/hendropriyono-wni-keturunan-arab-jangan-jadi-provokator